Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Shohih Bukhori Hadits ke 1 | Amal Perbuatan Tergantung Niat

Shohih Bukhori Hadits ke 1 | Amal Perbuatan Tergantung Niat

Daftar Isi Artikel: Tampilkan

Muqodimah Shohih Bukhori 

 

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Biografi Imam Bukhori.

Sedikit membahas tentang  Imam Bukhori sebelum pada pokok bahasan, karena yang akan kami bahas adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, lalu siapa sih Imam Bukhori? 

Imam Bukhori memiliki nama lengkap Abu Abdullah Muhamad bin Isma’il bin Ibrohim bin Al-mughiroh bin Bardidzbah al-Ju’fi. Beliau lahir pada tanggal 13 Syawal 194 Hijriyah di Bukhoro, Uzbekistan dan meninggal dunia pada tahun 252 Hijriyah bertepatan dengan malam takbiran Idul Fitri pada Sabtu malam.


Keilmuan Imam Bukhori.

Keilmuan Imam Bukhori diakui oleh ulama seluruh dunia khususnya ulama Ahlu Sunnah wal Jama’ah karena kemampuanya dalam menghafal dan menangkap apa-apa yang disampaikan oleh gurunya dalam majlis ilmu. 

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Imam Bukhori tak pernah membawa alat tulis setiapkali belajar dan hal ini yang menjadi sebab beliau diejek oleh teman-temannya karena dianggap bodoh dan tidak bisa ngaji, hingga pada saat dirasa sudah melampaui batasnya ejekan dari teman-temannya itu, maka Imam Bukhori menunjukan kepandaian ilmunya di hadapan teman-temannya dengan menyebutkan Hadits-hadits beserta menyebutkan biografi perawi haditsnya dengan lengkap beserta sanadnya dengan berurutan dan tersusun rapih. 

Kemudian hal yang luar-biasa dari beliau adalah ketika setiap kali beliau akan menulis hadits-hadits pada kitabnya, maka beliau terlebih dahulu bersuci dengan mandi dan berwudhu kemudian sholat dua roka’at yakni sholat Istikhoroh. 


Bab Permulaan Wahyu.

Dituliskan diawal kitab Shohih Bukhori bahwa syekh Al-Imam, Al-hafiz Muhamad bin Isma’il bin Ibrohim bin Al-mughiroh al-Bukhori berkata : 

Ini Bab tentang Bagaimana dimulainya wahyu kepada Rosulullah sholallahu ‘alahi wasalam Dan dalam Al-qur’an Allah berfirman :

“Sesunghuhnya kami (Allah) telah memberikan wahyu kepada engkau (Muhamad), sebagaimana kami telah memberikan wahyu kepada nabi Nuh dan kepada nabi-nabi setelahnya.”


Tanggapan Ulama Terhadap Muqodimah Shohih Bukhori.

Ada hal yang menarik yang menjadi sorotan ulama diawal kitab shohih Bukhori yaitu tidak adanya muqodimah bacaan hamdalah, syahadat ataupun sholawat sebagaimana umumnya ulama menuliskan bacaan hamdalah, syahadat dan sholawat di awal kitab karangan mereka. Dijawab oleh Ibnu Hajar Al-‘asqolani (ulama ahli Hadits bermadzhab Syafi’i) bahwa apa yang dilakukan oleh Imam Bukhori pada dasarnya adalah membuka sesuatu dengan menunjukan pada yang dimaksud, artinya bahwa Imam bukhori ingin menunjukan bahwa niat itu terpenting. 

Suatu perbuatan yang baik sekalipun, jika tidak disertai niat maka tidak bernilai di sisi Allah, seperti pada perbuatan yang mubah ketika diniatkan untuk keperluan ibadah dengan mengikuti tuntunan nabi maka bernilai sunah, seperti halnya makan, minum, tidur dan sebagainya.


Amal Perbuatan Tergantung Niat Hadits Ke 1 

Kemudian Imam Bukhori menempatkan hadits berikut dibawah ini sebagai muqodimah di dalam kitabnya :

حَدَّثَنَا الحُمَيدِيُّ عَبدُ اللهِ بنُ الزُّبَيرِ قَال حَدَّثَنَا سُفيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحيَى بنُ شَعِيدٍ الأَنصَارِيُّ قَالَ أَخبَرَنَي مُحَمَّدٌ إِبنُ إِبرَاهِيمَ التَّيمِي اَنَّهُ سَمِيعَ عَلقَمَةَ بنَ وَقَّاصٍ اللَّيثِيُّ يَقُولُ سَمِعتُ عُمَرَ بنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنهُ عَلَى المِنبَرِ قَالَ سَمَعتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ، إِنَّمَاالأَعماَلُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امرِئٍ مَانَوَاى فَمَن كَانَت هِجرَتُهُ إِلَى دُنيَا يُصِيبُهَا اَو إِلَى امرَأَةٍ يَنكِحُهَا فَهَجرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيهِ

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sya'id Al Anshori berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhamad bin Ibrohim At taimi, bahwa dia pernah mendengar Alqomah bin Waqosh Al Laitsi berkata ; saya pernah mendengar Umar bin Al Khothob di atas mimbar berkata; saya mendengar Rosulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang diniatkan." (Shohih Bukhori : hadits ke 1)

Dengan diriwayatkannya hadits tersebut oleh Sayidina Umar bin Khothob, maka dengan demikian hadits ini adalah shohih dan menurut Imam Suyuti bahwa Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam yang enam, namun menurut Imam Suyuti sungguh mengherankan Imam Malik tidak meriwayatkan di dalam kitab Al-muwatho’nya yakni ada riwayat lain yang disebutkan dalam Al-muwatho’ sehubungan dengan hadits ini, kesimpulannya bahwa hadits ini juga diletakan dalam kitab Al-muwatho’nya Imam Malik.


Hadits Al A'malu Bin-Niyat Adalah Sepertiga Ilmu.

Menurut Imam Syafi’i, begitupula Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Mahdiy, Ibnu Madini, Abu Daud dan Ruqutni bahwa hadits ini  adalah sepertiga ilmu. 

Kemudian Imam Ahmad mengatakan bahwasanya hadits “Innamal a’malu binniyyat” adalah sepertiga ilmu karena dasar-dasar Islam itu terbagi kepada tiga hadits :


  1. Hadits “innamal a’malu binniyyat” (semua perbuatan tergantung niatnya)
  2. Hadits “Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa raddu” (Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak kami perintahkan, maka amal itu tertolak).
  3. Hadits “Al Halaalu bayyin wal haraamu bayyin” (Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas).

Dengan demikian bahwa hadits “innamal a’malu binniyyat” ini adalah hadits yang sangat penting, sehingga Imam Bukhori meletakan hadits ini sebagai muqodimah, bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa niat itu menjadi syarat dan sebagian ulama mengatakan bahwa niat itu sebagian daripada rukun. Seperti dalam wudhu, niat menjadi bagian daripada rukun/fardhu, ketika tidak melakukan niat maka tidak syah wudhunya, begitu pula dalam sholat, seperti dalam sholat Qoshor dan Jama’ tidak diperkenankan dalam fiqih jika orang itu tak ada niatan apa-apa didalam bepergiannya meskipun terbilang jauh yakni dua marhalah.

Kemudian disebutkan juga di dalam hadits ini bahwa balasan bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan. 

Seperti misalnya wudhu pada saat mengerjakan yang sunah seperti membasuh kedua telapak tangan, berkumur, membasahi lubang hidung dan yang lainnya, jika di dalam hati kita tidak diniatkan untuk mengerjakan sunah berwudhu saat membasuh kedua telapak tangan, maka semua anggota wudhu yang sunah yang kita kerjakan tak bernilai pahala, begitu pula ketika mengerjakan anggota wudhu yang fardhu yakni membasuh wajah, membasuh kedua tangan, mengusap kepala dan membasuh kedua kaki jika tanpa niat wudhu yang termasuk fardhu saat membasuh wajah, maka tidak syah wudhunya dan berimbas pada sholat yang juga tidak syah. 

Sebagaimana telah dibahas dalam kitabnya syekh Zainudin Al-malibari bahwa sebaiknya dipisahkan antara niat wudhu yang sunah dan yang fardhu ketika berwudhu. 

Kemudian niat menjadi pembeda nilai ibadah seseorang, nilai ibadah seseorang tidak dipandang dari kuantitas ibadah tersebut, akan tetapi dari kualitasnya, sehingga niat menjadi barometer akan tiap-tiap kedudukan seseorang dalam beribadah kepada Allah, karena yang dipandang oleh Allah dari perbuatan seseorang yaitu apa yang tersembunyi dalam hati yakni niat, karena tempatnya niat adalah pada hati bukan di mulut yang lebih mudah berdusta.



Hijrah Karena Wanita
Pinterest

Hijrah Karena Dunia dan Wanita

Kemudian dilanjutkan dalam hadits ini dengan kalimat terakhir yaitu barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang diniatkan. Di dalam hadits ini disebutkan “dunia” dan “perempuan” yang dijadikan sorotan dari motif hijrahnya seseorang yang selain karena Allah. 

Dari hadits ini kita bisa menyimpulkan betapa perempuan itu memiliki dayatarik yang luarbiasa bagi seorang pria selain daripada dunia, padahal wanita itu termasuk dunia, tapi di dalam hadits rosulullah mempertegas dengan menjadikan perempuan sebagai tandingan daripada dunia, karena memang antara tahta dan harta yang menjadi hiasannya dunia, perempuan adalah yang menandingi keduanya.

Hadits ini bukan bermaksud mendiskreditkan kaum perempuan, akan tetapi hadits ini diucapkan Rosulullah ketika ada sahabat yang enggan hijrah ke Madinah, tetapi kemudian berubah pendiriannya ketika wanita pujaannya hijrah ke Madinah, lelaki tersebut hijrah bukan karena mengikuti perintah Allah dan Rosulullah tapi semata-mata demi perempuan, maka orang tersebut tak mendapatkan nilai di sisi Allah, dia hanya mendapat apa yang dia niatkan yakni perempuan.


Penutup

Dengan demikian bahwa segala perbuatan yang baik termasuk perkara yang mubah sekalipun akan bernilai menurut pandangan Allah jika di hatinya diniatkan hanya karena Allah dan tiap-tiap perbuatan yang berhubungan dengan ibadah harus disertai niat di dalam pelaksanaannya agar mendapat nilai di sisi Allah.

Wallahu a'lam bishowab...



Sumber :
  • Kitab Shohih Bukhori

Open Comments

Posting Komentar untuk "Shohih Bukhori Hadits ke 1 | Amal Perbuatan Tergantung Niat"